
MAJAPAHITNEWS.COM – Penetapan Kabupaten Ponorogo sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) menandai babak baru dalam perjalanan pembangunan berbasis kreativitas di bumi Reyog.
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menegaskan bahwa predikat ini bukan sekadar simbol atau gelar semata, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijaga dan diwujudkan melalui langkah nyata.
“UCCN kan memang harus kita songsong, kita sambut, lalu kita rawat dengan baik. Ini tidak gampang mencarinya, tidak gampang meraihnya. Sejak awal 2022 kita sudah dorong, pernah gagal, lalu berbenah. Maka hari ini kita mencapai titik di mana Ponorogo mendapatkan UCCN,” ujar Sugiri Sancoko.
Menurutnya, capaian ini merupakan hasil dari kerja bersama dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
“Kewajibannya kita kreatif, kita berkolaboratif, kita tumbuh, rakyat sejahtera. Karena kita sudah mendapatkan UCCN, tinggal kita merawatnya dengan baik sesuai ketentuan,” tegasnya.
Bupati dua periode itu menjelaskan, tantangan berikutnya bagi Ponorogo adalah bagaimana menjaga dan memperluas jejaring dengan kota-kota kreatif lain di dunia. Upaya ini dilakukan dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar kreativitas masyarakat semakin tumbuh dan berdaya saing.
“Tugas kita adalah bagaimana mengkolaborasi kreativitas, menggali kreativitas, lalu menumbuhkan kreativitas agar Kota Kreatif ini berjejaring dengan dunia. Ini kesempatan emas untuk kita gerakkan secara gemuruh,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kang Giri menyebut pemerintah daerah akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, pelaku UMKM, seniman, hingga masyarakat umum untuk ikut menjaga keberlanjutan status kota kreatif ini.
“Kita mengundang mahasiswa, pelaku UMKM, pelaku wisata, dan masyarakat untuk bergerak bersama. Mulai dari UMKM-nya, wisatanya, perubahan peradabannya, hingga kebersihan dan moral masyarakat, semuanya kita data secara detail agar Ponorogo siap menjadi kota yang mendunia,” jelasnya.
Terkait sektor pariwisata, dirinya menilai perlu adanya perubahan pola pikir masyarakat dalam memaknai potensi wisata Ponorogo.
“Kita tidak melihat wisata itu dari sisi destinasi saja, tapi mencoba me-re-orientasi mindset kita bahwa wisata adalah semua yang menjadi tujuan orang untuk belajar, studi banding, atau menjadi episentrum kegiatan,” jelasnya.
Bupati juga mencontohkan bahwa sektor pertanian pun bisa dikembangkan menjadi wisata edukatif dan kreatif.
“Misalnya ada kafe, wisata petik buah, masak pohon, makan, atau mancing. Nah, ini yang harus kita pikirkan,” terangnya.***
