
MAJAPAHITNEWS.COM – Sekolah Rakyat di Kabupaten Trenggalek terus berupaya memenuhi kebutuhan jumlah rombongan belajar (rombel) sejak peresmian pada 30 September 2025.
Upaya tersebut dilakukan bersama Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Trenggalek yang menjadi pengampu langsung program pendidikan alternatif bagi anak dari keluarga kurang mampu itu.
Plt Kepala Dinsos PPPA Trenggalek, Totok Rudijanto, menjelaskan bahwa hingga akhir November, Sekolah Rakyat sudah membuka tiga rombel yang terdiri dari dua rombel untuk jenjang SD dan satu rombel untuk jenjang SMP.
“Untuk rombel tingkat SMP sudah terpenuhi, jumlah siswanya 24 orang,” ujarnya.
Berbeda dengan jenjang SMP, dua rombel di tingkat SD masih belum mencapai jumlah ideal. Saat ini baru terisi 32 siswa, sehingga masih diperlukan tambahan sekitar 15 hingga 19 anak untuk memenuhi kuota sebagaimana target pemerintah.
Totok menegaskan bahwa pemenuhan kuota tersebut akan dikejar sebelum akhir tahun ini.
“Kami targetkan pemenuhan kuota SD selesai akhir tahun, sehingga awal 2026 pembelajaran bisa berjalan normal,” kata Totok.
Untuk menjaring siswa baru, Dinsos PPPA menerjunkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) serta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) guna melakukan verifikasi lapangan.
Penjaringan calon peserta didik dilakukan secara ketat dengan persyaratan utama berasal dari keluarga kategori desil 1 dan 2.
Totok menjelaskan bahwa mekanisme pendaftaran di Sekolah Rakyat tidak mengikuti kalender pendidikan reguler. Penerimaan siswa dapat dilakukan setiap waktu menyesuaikan kebutuhan rombel. Namun, sejumlah tantangan masih ditemui di lapangan.
“Hambatannya, banyak anak usia SD sudah bersekolah, dan pada usia itu sebagian masih memiliki ketergantungan keibuan,” tuturnya.
Meski jumlah siswa SD belum sepenuhnya terpenuhi, Sekolah Rakyat Trenggalek sudah memiliki fasilitas dan sumber daya pendidikan yang lengkap.
Mulai dari guru, kepala sekolah, tenaga tata usaha, bendahara, wali asrama, wali asuh, psikolog, tenaga kesehatan, hingga petugas keamanan telah disiapkan untuk mendukung proses belajar mengajar.
Berbagai program pembinaan pun mulai dirasakan manfaatnya oleh para siswa. Menurut Totok, anak-anak perlahan merasa nyaman tinggal dan belajar di lingkungan Sekolah Rakyat.
“Dalam program parenting bersama Dinsos Provinsi Jatim, wali siswa menyampaikan bahwa anak-anak merasa senang karena seluruh biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung pemerintah,” pungkasnya.***
